Mutiara Ilmu & Hikmah

Just another WordPress.com weblog

SURAT CINTA UNTUK ISTRIKU

Assalamu`alaikum warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillahirrohmanirrohim…

Sayangku …bagaimana kabar ayang di hari ini, semoga Alloh SWT melimpahkan anugrahNYA uantuk ayang dan anak2 agar sehat selalu, diberikan kekuatan iman dan kesabaran selama jauh dari abi, dan yg paling penting ayang semakin cantik lahir batinnya. Jadi istri solehah yah. Aamiiin.

Abi selalu berdoa agar Alloh masih berkenan membari waktu untuk kita kembali berkumpul bersama di Indonesia, membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah…Aamiin..

Sayang ku…….istri abi yang solehah…

Selama abi di japan sdh 4 kali abi metulis surat cinta ke ayang. Kali ini abi ingin menulis  beberapa pesan nasihat untuk ayang, dg harapan agar hari2 ayang penuh dg bahagia,…. Mudah2 an ayang senang membacanya…

Sayang…..

Ketika seseorang, suami atau istri, mengatakan I love you atau dalam bahasa indonesianya aku mencintaimu. Ada beberapa hal yang sebenarnya harus difahami oleh seseorang yang bercinta, jika tidak Baca lebih lanjut

Iklan

Mei 23, 2009 Posted by | keluarga sakinah | 8 Komentar

Malam Terindah dengan Kekasih.

Saudaraku..

Bagi para pecinta ALLAH, datangnya malam adalah anugrah terindah yang sangat ia nantikan, maka disiapkanlah saat-saat bahagia itu. sejak sebelum tidur getaran rindu sudah terpancar, untaian doa terucap agar bisa merasakan nikmatnya malam bersama kekasih sejati, ALLAH SWT.

Saat itu tepat pukul  2:30 alarm di HP bernyanyi nyaring membangunkan jiwa yang tengah terbuai mimpi indah, hangat selimut membuat nyaris lupa bahwa alarm itu saya pasang untuk membangunkan tahajud, untuk menghiasi malam malam hening dengan menggapai sajian terindah dari pemilik napas ini, ah masih saja setan meniup niup lembut ditelinga ini untuk mematikan alarm dan kembali masup kedalam selimut menyelesaikan yang tertunda untuk kembali lelap tapi setan itu lupa bahwa keinginan saya untuk bertemu dengan ALLAH lebih besar dari sekedar mengikuti bisikannya :)

Duduk sebentar diujung tempat tidur, mengumpulkan jiwa yang tercecer, singkarkan selimut dan menuju kran untuk berwudhu, membasuh muka menambah segar jiwa ini, membasuh telinga bak menggelitik alat pendengaran saya, memasukan air melalui rongga hidung seakan menghidupkan jiwa yang nyaris mati dan berkumur membuat semua sempurna dan hidup, sambil bergumam semoga tetesan air yang jatuh dari wajah ini dan terhempas ke bumi ini akan membawa keberkahan ditengah badai deras cobaan demi cobaan dalam hidup ini … amin ya ALLAH :)

Iya, segar sudah tubuh ini oleh basuhan air wudhu, menggelar sajadah menghadap kiblat, mengenakan pakaian khusus untuk salat, ah indahnya pakaian ini, semoga saja pemakainya lebih baik dari pakaian ini, kemudian rangkaian heningnya malam ini berlalu melalui rakaat demi rakaat hingga mencapai total 11 rakaat dengan witir diselesaikan, dan kini waktunya berdialog dengan sang pemilik bumi dan langit, yang memiliki segala galanya, yang mengabulkan semua doa orang orang yang bermunajat pada malam nan hening ini, semoga saya menjadi salah satu hamba pilihanNYA yang memperolah cintaNYA di sepertiga mlmy ang hening ini …

Subhanallah, semoga tetesan airmata ini membawa ampunan, isakan ini semoga berbuah syurga dan terangkatnya tangan ini semoga berbunga kebahagiaan, amin ya ALLAH ya nurul qolbu :).

Ya ALLAH, tahukah Engkau bahwa malam ini hamba sangat merindukanMu… sangat ingin berbicara denganMu, sangat ingin berdua saja denganMu, Baca lebih lanjut

April 17, 2009 Posted by | motivasi | 1 Komentar

KONSEP ISLAM DALAM MEMILIH PEMIMPIN

A.    Pendahuluan

Hari ini tanggal 9 April 2009, rakyat Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi memilih wakil rakyat yang akan duduk di lembaga Dewan Perwakilan Rakyat. Banyak Partai dengan beragam latar belakang ideologi dan haluan menawarkan beragam Caleg (Calon Legislatif) sebagai calon pemimpin yang akan mewakili dan menyuarakan kepentingan rakyat di lembaga legislatif Dewan Perwakilan Rakyat.

Selesai memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif, rakyat Indonesia akan melanjutkan memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden sebagai pemimpin bangsa yang akan memimpin perjalanan seluruh rakyat dan bangsa Indonesia dalam 5 (lima) tahun ke depan.

Para calon pemimpin, baik yang akan duduk di lembaga legislatif maupun eksekutif mengampanyekan diri sebagai pemimpin terbaik yang layak dipilih masyarakat untuk membawa bangsa dan negara maju dan makmur di masa depan.

Bagaimanakah Islam memandang tentang Pemimpin dan Kepemimpinan, serta seperti apakah pemimpin yang baik itu? Baca lebih lanjut

April 9, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pilih BEKERJA atau BISNIS?!

Baca lebih lanjut

Maret 21, 2009 Posted by | Uncategorized | 3 Komentar

Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan yang mula-mula masuk Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga; termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah (sebagai formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab r.a.; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah saw. untuk berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.

Namanya pada masa jahiliah adalah Abd Amr. Setelah masuk Islam Rasulullah saw. memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Itulah dia Abdurrahman bin Auf r.a.

Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah saw. masuk ke rumah Al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar ash-Shidiq masuk Islam. Sama halnya dengan kelompok kaum muslimin yang pertama-tama masuk Islam, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy, tetapi dia sabar dan tetap sabar. Pendiriannya teguh dan senantiasa teguh. Dia menghindari dari kekejaman kaum Quraisy, tetapi selalu setia dan patuh membenarkan risalah Muhammad. Kemudian dia turut pindah (hijrah) ke Habasyah bersama-sama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan kaum Quraisy yang senantiasa menerornya Baca lebih lanjut

Maret 20, 2009 Posted by | Tokoh | 4 Komentar

ATAS NAMA CINTA

 

Asalamu`alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Sahabatku, yang dikasihi ALLAH SWT..

 

Dari pagi sampai malam hari dan pagi hari ini, rahmat ALLAH berupa hujan terus menerus menyirami bumi sakura milikNya, seolah ada suatu pesan yg tersirat didalamnya, yah dialah ALLAH yang maha kuasa, Dialah ALLAH yang menurunkan hujan, Dialah ALLAH yang punya kehendakyang kehendaknya tiada yang bisa menghalanginya..

 

Sahabatku…

Pernah terlintas dalam pikiran bahwa hidup adalah berpindah dari satu waktu shalat ke waktu shalat yang lain, bahwa shalat adalah saat saya bertemu dengan pemilik jiwa saya … denganNya saya akan mengungkapkan apa yang terjadi dari satu waktu shalat ke waktu shalat yang lain, ketika shalat DHUHA misalnya, maka waktu nya menceritakan apa yang akan saya lakukan sepanjang hari ini, berharap semua menjadi mudah karena ada tangan ALLAH yang akan selalu membimbing saya  

 

Ketika waktu ZUHUR tiba maka waktunya mengadu kepada pemilik jiwa saya apa yang sudah saya lakukan sepanjang pagi ini, kesulitan yang saya temui, setan yang bernama malas yang hinggap membuat semua niat saya terbengkalai dan saya akan mohon ampunan jika yang saya lakukan sepanjang matahari bersinar pagi ini adalah sebuah kesalahan sambil terus bermohon agar ALLAH menjadi pendamping saya agar tak salah langkah yang saya ambil …

 

Ketika waktu ASHAR tiba … saya kan kembali menghadap kekasih saya ALLAH untuk bercerita dan berceloteh apa yang sudah saya lakukan sepanjang Zuhur ke Ashar, dan shalat di pergantian antara siang dan malam [waktu senja] ini adalah hal yang luar biasa “ya ALLAH sebentar lagi siangMU akan berlalu dan malamMU akan datang maka berilah saya ampunan dan sayangi saya ya ALLAH, beri saya kemudahan dalam mengisi napas yang ENGKAU titipkan ini, jadikan siang saya bermanfaat untuk umatMU dan jadikan malam saya penuh dengan kasih sayangMU

 

Ketika MAHGRIB tiba … meski waktu ini sangat singkat tapi saya usahakan sedapat mungkin bisa berjamah, inilah saat berlalunya siang dan disambut dengan datangnya malam, saat setelah indanya mentari senja menyusup di pelabuhannya, Alangkah bahagianya seandainya saat itu saya berada di masjid, bersama para pencinta ALLAH berjamaah mendengarkan suara imam nan indah mengalun memasuki telinga, membacakan ayat ayat cinta milik ALLAH, surat surat indah yang melebihi indahnya bahasa pujangga akan memecah antar bumi dan langit, menggema direlung hati yang paling dalam.

 

Ketika ISYA datang, sungguh inilah puncak dari kelelahan saya sepanjang hari ini … dan inilah waktu terpanjang untuk berdua dengan ALLAH diatas sajadah cinta, meletakan kening bersujud, bertakbir dan mengagungkan namaNYA dengan segenap cinta dan lelah yang tak ada habisnya, inilah akhir dari dunia hari ini inilah akhir dari pengisian kerasnya hidup dan waktunya melepas semua lelah dan penat dengan mengadukan kepada pemilik hidup tentang hari ini yang begitu dan begitu

TAHAJUD …. I love ALLAH, tak ada yang lebih saya cintai selain menikmati pukul 2:30 bersama kekasih saya, memindahkan segala resah, berharap ampunan, dan meletakan semua asa kepada pemilik segala harapan, tak ada yang tak mungkin bagi ALLAH untuk mengabulkan semua doa doa di penghujung malam ini, ditengah tiupan sepoi angin yang mengibas kening, bermuhasabah dan bermunajat

 

Ketika adzan SUBUH menggema dan memecah kesunyian malam ( walau hanya dari suara program komputer, disini azan di Masjid tidak bisa keluar, umat islam masih minoritas), ketika kalimat assahllatu khairun minannaum menggema dan membangunkan seluruh persendian saya, subuh adalah waktu terbening untuk saya, dinginnya indah, anginnya lembut, dan sapuan air wudhu lebih terasa maknyusss !! setiap tetesnya membangun harapan untuk saya, harapan baru diatas napas yang baru saja ALLAH titipkan …

 

Shalat adalah Percakapan Paling Dalam dan Mesra antara pecinta dengan yang dicintai … [Jalaludin Rumi]

 

Iya atas nama CINTA kita menemui ALLAH disetiap waktu shalat kita kalau bukan ALLAH yang kita rindukan, maka kemana lagi kerinduan akan labuhkan … DIA lah yang maha menyelesaikan semua masalaha, bukan yang lain, DIA lah yang maha memiliki segala cinta untuk kita agar mata ini tetap bisa melihat, agar kaki ini tetap bisa merespon otak kita untuk melangkah agar bisa meneruskan cita cita kita..

 

Sahabat….

Selamat pagi semua …

Salamat berkarya di hari baru ini….

Semoga hari ini adalah tetap menjadi hari terbaik kita…..

Oh iya udah pasang alarm untuk tahajud jam 2:30 kan, cek yok dan pastikan kita menikmati jamuan ALLAH yang akan mengabulkan semua doa, ALLAH tidak pernah ingkar janji dan janjiNYA adalah mutlak, jadi tunggu apalagi,  kalo mau dikabulkan semua doa, tahajud lah jawabannya

 

Wassalamu`alaikum..

Al Hub Fillah Walillah

Maret 12, 2009 Posted by | motivasi | 1 Komentar

MANUSIA CERDAS

 

Sahabat…

Tidak terasa waktu menggerogoti usia kita, tiapa hari kita ambil jatah hidup kita. jam demi jam berlalu, hari demi hari berganti, dan tahun demi tahun terus berguguran, bagai dedaunan yang meranggas karena takmampu lagi untuk bergantung..

Kita tidak tahu apakah masih banyak sisa usia kita atau sudah dekat bahkan sudah dekat sekali dengan batas usia kita. 

Berbahagialah bagi mereka yang kecepatan waktu berlalu sebanding dengan banyaknya perbekalan yang disiapkannya untuk satu perjalan panjang dan abadi, dimana hanya ada dua akhir tujuan perjalan yaitu surga atau neraka.

 

Sahabat…

Pernahkah kita melayat/berta`ziyah saat ada saudara kita meninggal dunia.? Bisa jadi pemandangan yang terlihat kala itu sama seperti yang saya lukiskan sebagai berikut. Ketika saya sampai dirumah duka, raga sahabat saya sedang dimandikan untuk kemudian diberi kapas seluruh wajahnya dan untuk kemudian dikaffani lalu kemudian dinaikan di kerada berselendang hijau dan dishalatkan dan dimasukan kedalam lipatan tanah… lalu menunggu sang pemilik napas memanggil untuk mempertanggung jawabkan semua yang pernah dilakukan didunia yang fana ini, sejak lahir hingga tertutup panggung sandiwara yang diperankannya, usai sudah hanya tinggal nama yang akan diingat.

 

Ketika kita melihat semua prosesi itu, yang mengeliat di dalam jiwa adalah jika yang terbaring kaku penuh senyum itu adalah diri sendiri, yang terbungkus kafan itu adalah diri ini dan yang diletakan dikeranda untuk kemudian dimasukan kedalam lipatan tanah itu adalah raga ini … lalu siapkah kita berdiri tegak dimahkamah ALLAH jika apa yang kita lakukan masih sama dengan yang kemarin kemarin??..cukupkah amalan kita untuk dapat mengharap ampunan dan syafaatnya,?? jika TIDAK maka yang terbayang adalah ketakutan yang tak terhingga, yang terbayang adalah azab yang sangat perih menindih raga dan jiwa ini, dan hampir dipastikan jika itu ditanyakan kepada diri saat ini “Sahabat, siap gak jika panggung sandiwara ditutup sekarang?” maka jawabannya adalah saya BELUM siap

 

Lalu jika saat sandiwara didunia ini usai sudah, masih kah kita  mampu memohon agar diberi waktu lebih lama lagi, karena kita ingin memperbaiki nilai taqwa, menjalankan semua perintahNYA dan menjauhi laranganNYA… pasti sang penjemput akan mengatakan bahwa “waktu yang kemarin seharusnya cukup, untuk menghapus dosa dosa kamu, tapi kenapa kamu gak  pergunakan dengan baik setiap napas yang dititipkan

 

Jika demikian terjadi bahwa saya bukan orang yang cerdas melihat berbagai peringatan dan kurang cerdas memanfaatkan waktu untuk memohon ampunan dan beribadah lebih giat lagi agar koper penuh dengan amalan ketika saya pulang nanti, saat ini koper saya masih terlalu enteng bahkan nyaris kosong   .

Kemudian saya teringat bahwa manusia pilihan ALLAH yang akan mengisi syurganya adalah:

manusia yang CERDAS, yang senantiasa berdzikir menyebut asma tuhannya (misalnya subhanallah, walhamdulillah, wa laa illaaha illallah, ALLAH akbar) everytime, everywhere …

 

manusia yang CERDAS adalah yang menjadikan bumi ALLAH yang terhampas luas ini sebagai masjid baginya, kantornya mushallanya, meja kerjanya sajadahnya.. [inilah tanda cinta kepada ALLAH bahwa semua yang ia lakukan adalah untuk ALLAH, inna shalati wannusuki wamahyaya wammaati lillahi rabbil allaamin, sesungguhnya ibadah saya, shalat saya, hidup dan mati saya adalah untuk ALLAH] …[ bukankah itu yang kita ucapkan setiap sholat ]

 

manusia yang CERDAS adalah yang memfungsikan tatapan mata penuh kasih [rahmat], pikiran senantiasa husnuzhan, tarikan napasnya tasbih, gerakan hatinya adalah doa, bicaranya bernilai dakwah… diamnya dzikir, gerak tangannya berbuat sedekah dan langkah kakinya adalah jihad fi sabillillah…

 

manusia yang CERDAS, adalah manusia yng mempersiapkan kehidupannya, bukan saja untuk dunianya tetapi untuk kehidupan yang abadinya..

SUBHANALLLAH …

Kemudian yang terpikir oleh saya adalah mengapa saya menunda untuk menjadi manusia yang cerdas dalam pandangan ALLAH yah, seharusnya saya sadar bahwa saya wajib mencerdaskan diri saya sebelum sandiwara hidup saya ini usai … karena tidak ada yang menjamin bahwa esok ALLAH berkenan menitipkan napas kepada saya, jika malam ini saya tertidur dan tak bangun lagi sedang saya masih saja bodoh dan tidak cerdas maka kesia siaan lah yang saya jalani .

 

Jadi mulai detik ini kita harus menjadi manusia yang cerdas dan jangan mau di jadikan tangan tangan setan untuk menemaninya diakhirat nanti …Tentu kita tidak mau karena kita manusia cerdas 

Yok mulai detik ini kita cerdaskan diri kita … gampang kan? logikanya kita harus malu lah kalo takwa aja gak bisa kan udah ada contekannya di Al Quran dan Hadits jadi tinggal baca dan amalkan lalu berlomba lomba lulus Cumloude.

Buatlah ALLAH bangga dengan menjadi diri kita murid teladanNYA dalam sekolah kehidupan.  !!

Bisa kan? pilihannya berpulang dalam keadaan CERDAS atau berpulang dengan KEBODOHAN..

 

Sahabat…

Sebentar lagi adalah malam minggu(Week end..) maka, jika saya ingin dicintai oleh manusia, saya harus mencintainya pula, dan begitulah jika saya ingin dicintai ALLAH SWT. lalu berterbangan di jiwa saya pula bahwa malam itu waktunya mengirim sms cinta, waktunya menelphone sekedar mendengar suara mesra diujung sana, atau waktunya mengirimkan setangkai mawar merah dengan kartu berwarna pink bertulisan “Mawar ini adalah saya, hanya ingin kamu tahu bahwa I love you and I do love you” 

 

Bagaimana agar Week end..kita lebih bermakna? atau yang sangat kita cintai juga membalas cinta kita..alangkah malangnya bagi mereka yang bertepuk sebelah tangan,,.. ..yah bisa jadi cinta anda belum anda ungkapkan, atau memang anda tidak mencintainya.

Kuncinya ..ayo kita ungkapkan cinta kita..kalau kita cinta kepada ALLAH segeralah ungkapkan yah, tapi bukan sekedar kata-kata, harus dengan bukti nyata bahwa kita memang benar-benar cinta, sehingga saat ajal merenggut nyawa, benar-benar tidak terasa karena jiwa yang bahagia, yah bahagia karena akan bertemu dengan yang maha kuasa, kekasih yang sangat di cinta, ALLAH subhanahu wata`ala, yang memiliki nama-nama yang mulya, Al Asma`ul Husna, yang kelak akan menampakkan wajahnya yang maha indah di satu tempat yang indah tiada tara, tempat yang didalamnya bertabur bahagia yaitu jannah atau surga.

Selamat Week End Semuanya….

Selamat Bahagia……

Maret 12, 2009 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Prinsip-Prinsip Mengkaji Ilmu Agama

PRINSIP PRINSIP MENGKAJI AGAMA

Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja. Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat. Tujuannya agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak kelompok dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh kepada pemahaman yang menyimpang!

Dewasa ini banyak sekali ‘jalan’ yang ditawarkan untuk mempelajari dienul Islam. Masing-masing pihak sudah pasti mengklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar. Melalui berbagai cara mereka berusaha meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Lihatlah sekeliling kita. Ada yang menawarkan jalan dengan memenej qalbunya, ada yang mengajak untuk ikut hura-huranya politik, ada yang menyeru umat untuk segera mendirikan Khilafah Islamiyah, ada pula yang berkelana dari daerah satu ke daerah lain mengajak manusia ramai-ramai ke masjid.

Namun lihat pula sekeliling kita. Kondisi umat Islam masih begini-begini saja. Kebodohan dan ketidakberdayaan masih menyelimuti. Bahkan sepertinya makin bertambah parah. Adakah yang salah dari tindakan mereka? Ya, bila melihat kondisi umat yang semakin jatuh dalam kegelapan, sudah pasti ada yang salah.

Mengapa mereka tidak mengajak umat untuk kembali mempelajari agamanya saja? Mengapa mereka justru menyibukkan umat dengan sesuatu yang berujung kesia-siaan? Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pewaris Nabi selalu berusaha mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah untuk mengajak umat kembali mempelajari agamanya.

Dalam berbagai hal, Ahlussunnah tidak akan pernah keluar dari jalan yang telah digariskan oleh Nabi r. Lebih-lebih dalam mengambil dan memahami agama di mana hal itu merupakan sesuatu yang sangat asasi pada kehidupan. Inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan umat. Berikut kami akan menguraikan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam mengkaji agama, namun kami hanya akan menyebutkan hal-hal yang sangat pokok dan mendesak untuk diungkapkan. Tidak mungkin kita menyebut semuanya karena banyaknya sementara ruang yang ada terbatas.

Makna Manhaj Manhaj dalam bahasa Arab adalah sebuah jalan terang yang ditempuh. Sebagaimana dalam firman Allah: “Dan kami jadikan untuk masing-masing kalian syariat dan minhaj.” (Al-Maidah: 48) Kata minhaj , sama dengan kata manhaj . Kata minhaj dalam ayat tersebut diterangkan oleh Imam ahli tafsir Ibnu Abbas, maknanya adalah sunnah. Sedang sunnah artinya jalan yang ditempuh dan sangat terang.

Demikian pula Ibnu Katsir menjelaskan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/67-68 dan Mu’jamul Wasith). Yang diinginkan dengan pembahasan ini adalah untuk menjelaskan jalan yang ditempuh Ahlussunnah dalam mendapatkan ilmu agama. Dengan jalan itulah, insya Allah kita akan selamat dari berbagai kesalahan atau kerancuan dalam mendapatkan ilmu agama.

Inilah rambu-rambu yang harus dipegang dalam mencari ilmu agama:

1. Mengambil ilmu agama dari sumber aslinya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Allah I berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian mengikuti para pimpinan selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya.” (Al-A’raf: 3) Dan Rasulullah r bersabda: “Ketahuilah bahwasanya aku diberi Al Qur’an dan yang serupa dengannya bersamanya.” (Shahih, HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Miqdam bin Ma’di Karib. Lihat Shahihul Jami’ N0. 2643)

2. Memahami Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih yakni para sahabat dan yang mengikuti mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sebagaimana sabda Nabi r: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang setelah mereka kemudian yang setelah mereka.” (Shahih, HR Bukhari dan Muslim) Kebaikan yang berada pada mereka adalah kebaikan yang mencakup segala hal yang berkaitan dengan agama, baik ilmu, pemahaman, pengamalan dan dakwah.

Ibnul Qayyim berkata: “Nabi mengabarkan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasinya secara mutlak. Itu berarti bahwa merekalah yang paling utama dalam segala pintu-pintu kebaikan. Kalau tidak demikian, yakni mereka baik dalam sebagian sisi saja maka mereka bukan sebaik-baik generasi secara mutlak.” (lihat Bashair Dzawis Syaraf: 62) Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap agama ini sudah dijamin oleh Nabi.

Sehingga, kita tidak meragukannya lagi bahwa kebenaran itu pasti bersama mereka dan itu sangat wajar karena mereka adalah orang yang paling tahu setelah Nabi. Mereka menyaksikan di mana dan kapan turunnya wahyu dan mereka tahu di saat apa Nabi r mengucapkan hadits. Keadaan yang semacam ini tentu sangat mendukung terhadap pemahaman agama. Oleh karenanya, para ulama mengatakan bahwa ketika para shahabat bersepakat terhadap sesuatu, kita tidak boleh menyelisihi mereka.

Dan tatkala mereka berselisih, maka tidak boleh kita keluar dari perselisihan mereka. Artinya kita harus memilih salah satu dari pendapat mereka dan tidak boleh membuat pendapat baru di luar pendapat mereka. Imam Syafi’i mengatakan: “Mereka (para shahabat) di atas kita dalam segala ilmu, ijtihad, wara’ (sikap hati-hati), akal dan pada perkara yang mendatangkan ilmu atau diambil darinya ilmu. Pendapat mereka lebih terpuji dan lebih utama buat kita dari pendapat kita sendiri -wallahu a’lam- .

Demikian kami katakan. Jika mereka bersepakat, kami mengambil kesepakatan mereka. Jika seorang dari mereka memiliki sebuah pendapat yang tidak diselisihi yang lain maka kita mengambil pendapatnya dan jika mereka berbeda pendapat maka kami mengambil sebagian pendapat mereka. Kami tidak akan keluar dari pendapat mereka secara keseluruhan.” (Al-Madkhal Ilas Sunan Al-Kubra: 110 dari Intishar li Ahlil Hadits: 78].

Begitu pula Muhammad bin Al Hasan mengatakan: “Ilmu itu empat macam, pertama apa yang terdapat dalam kitab Allah atau yang serupa dengannya, kedua apa yang terdapat dalam Sunnah Rasulullah atau yang semacamnya, ketiga apa yang disepakati oleh para shahabat Nabi atau yang serupa dengannya dan jika mereka berselisih padanya, kita tidak boleh keluar dari perselisihan mereka ., keempat apa yang diangap baik oleh para ahli fikih atau yang serupa dengannya. Ilmu itu tidak keluar dari empat macam ini.” (Intishar li Ahlil Hadits: 31)

Oleh karenanya Ibnu Taimiyyah berkata: “Setiap pendapat yang dikatakan hanya oleh seseorang yang hidup di masa ini dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun yang terdahulu, maka itu salah.” Imam Ahmad mengatakan: “Jangan sampai engkau mengeluarkan sebuah pendapat dalam sebuah masalah yang engkau tidak punya pendahulu padanya.” (Majmu’ Fatawa: 21/291)

Hal itu -wallahu a’lam- karena Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah melindungi umatku untuk berkumpul di atas kesesatan.” (Hasan, HR Abu Dawud no:4253, Ibnu Majah:395, dan Ibnu Abi Ashim dari Ka’b bin Ashim no:82, 83 dihasankan oleh As Syaikh al Albani dalam Silsilah As- Shahihah:1331] Jadi tidak mungkin dalam sebuah perkara agama yang diperselisihkan oleh mereka, semua pendapat adalah salah.

Karena jika demikian berarti mereka telah berkumpul di atas kesalahan. Karenanya pasti kebenaran itu ada pada salah satu pendapat mereka, sehingga kita tidak boleh keluar dari pendapat mereka. Kalau kita keluar dari pendapat mereka, maka dipastikan salah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah di atas.

3. Tidak melakukan taqlid atau ta’ashshub (fanatik) Manhaj/madzhab. Allah berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (Al-A’raf: 3) “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah.

 Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7) Dengan jelas ayat di atas menganjurkan untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah baik berupa Al Qur’an atau hadits. Maka ucapan siapapun yang tidak sesuai dengan keduanya berarti harus ditinggalkan. Imam Syafi’i mengatakan: “Kaum muslimin bersepakat bahwa siapapun yang telah jelas baginya Sunnah Nabi maka dia tidak boleh berpaling darinya kepada ucapan seseorang, siapapun dia.” (Sifat Shalat Nabi: 50)

Demikian pula kebenaran itu tidak terbatas pada pendapat salah satu dari Imam madzhab yang empat. Selain mereka, masih banyak ulama yang lain, baik yang sezaman atau yang lebih dulu dari mereka. Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya tidak seorangpun dari ahlussunnah mengatakan bahwa kesepakatan empat Imam itu adalah hujjah yang tidak mungkin salah.

Dan tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa kebenaran itu terbatas padanya dan bahwa yang keluar darinya berarti batil. Bahkan jika seorang yang bukan dari pengikut Imam-imam itu seperti Sufyan Ats Tsauri, Al Auza’i, Al Laits bin Sa’ad dan yang sebelum mereka atau Ahlul Ijtihadyang setelah mereka mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi pendapat Imam-imam itu, maka perselisihan mereka dikembalikan kepada Allah I dan Rasul-Nya, dan pendapat yang paling kuat adalah yang berada di atas dalil.” (Minhajus Sunnah: 3/412 dari Al Iqna’: 95). Sebaliknya, ta’ashshub (fanatik) pada madzhab akan menghalangi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Tak heran kalau sampai ada dari kalangan ulama madzhab mengatakan: “Setiap hadits yang menyelisihi madzhab kami maka itu mansukh (terhapus hukumnya) atau harus ditakwilkan (yakni diarahkan kepada makna yang lain).” Akhirnya madzhablah yang menjadi ukuran kebenaran bukan ayat atau hadits.

Bahkan ta’ashub semacam itu membuat kesan jelek terhadap agama Islam sehingga menghalangi masuk Islamnya seseorang sebagaimana terjadi di Tokyo ketika beberapa orang ingin masuk Islam dan ditunjukkan kepada orang-orang India maka mereka menyarankan untuk memilih madzhab Hanafi. Ketika datang kepada orang-orang Jawa atau Indonesia mereka menyarankan untuk memilih madzhab Syafi’i. Mendengar jawaban-jawaban itu mereka sangat keheranan dan bingung sehingga sempat menghambat dari jalan Islam [Lihat Muqaddimah Sifat Shalat Nabi hal: 68 edisi bahasa Arab)

4. Waspada dari para da’i jahat. Jahat yang dimaksud bukan dari sisi kriminal tapi lebih khusus adalah dari tinjauan keagamaan. Artinya mereka yang membawa ajaran-ajaran yang menyimpang dari aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, sedikit atau banyak.

Di antara ciri-ciri mereka adalah yang suka berdalil dengan ayat-ayat yang belum begitu jelas maknanya untuk bisa mereka tafsirkan semau mereka. Dengan itu mereka maksudkan menebar fitnah yakni menyesatkan para pengikutnya. Allah berfirman: “Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan (dari kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan ingin mentakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (Ali-Imran: 7)

Ibnu Katsir mengatakan: “Menginginkan fitnah artinya ingin menyesatkan para pengikutnya dengan mengesankan bahwa mereka berhujjah dengan Al Qur’an untuk (membela) bid’ah mereka padahal Al Qur’an itu sendiri menyelisihinya. Ingin mentakwilkannya artinya menyelewengkan maknanya sesuai dengan apa yang mereka inginkan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/353]

5. Memilih guru yang dikenal berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan mu’amalah. Hal itu karena urusan ilmu adalah urusan agama sehingga tidak bisa seseorang sembarangan atau asal comot dalam mengambilnya tanpa peduli dari siapa dia dapatkan karena ini akan berakibat fatal sampai di akhirat kelak. Maka ia harus tahu siapa yang akan ia ambil ilmu agamanya. J

angan sampai dia ambil agamanya dari orang yang memusuhi Sunnah atau memusuhi Ahlussunnah atau tidak pernah diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini yang dipelajari adalah akidah-akidah yang salah atau mendapat ilmu hanya sekedar hasil bacaan tanpa bimbingan para ulama Ahlussunnah.

Sangat dikhawatirkan, ia memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut. Seorang tabi’in bernama Muhammad bin Sirin mengatakan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Beliau juga berkata: “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: sebutkan kepada kami sanad kalian, sehingga mereka melihat kepada Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat kepada ahlul bid’ah lalu menolak haditsnya.” (Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)

Nabi r bersabda: “Keberkahan itu berada pada orang-orang besar kalian.” (Shahih, HR. Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas, dalam kitab Jami’ Bayanul Ilm hal:614 dengan tahqiq Abul Asybal, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’:2887 dan As Shahihah:1778)

Dalam ucapan Abdullah bin Mas’ud: “Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka, jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, maka mereka akan binasa.” Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari shahabat Umar bin Khattab. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanul Ilm hal: 615 dan 616, tahqiq Abul Asybal dan dishahihkan olehnya)

Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ahlul ilmi (ulama) maksud dari hadits di atas: “Bahwa yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang semakna dengannya adalah orang yang dimintai fatwa padahal tidak punya ilmu. Dan orang yang besar artinya yang berilmu tentang segala hal. Atau yang mengambil ilmu dari para shahabat.” (Lihat Jami’ Bayanil Ilm: 617).

6. Tidak mengambil ilmu dari sisi akal atau rasio, karena agama ini adalah wahyu dan bukan hasil penemuan akal. Allah berkata kepada Nabi-Nya: “Katakanlah (Ya, Muhammad): ‘sesungguhnya aku memberi peringataan kepada kalian dengan wahyu.’.” (Al-Anbiya: 45) “Dan tidaklah yang diucapkan itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Sungguh berbeda antara wahyu yang bersumber dari Allah Dzat yang Maha Sempurna yang sudah pasti wahyu tersebut memiliki kesempurnaan, dibanding akal yang berasal dari manusia yang bersifat lemah dan yang dihasilkannya pun lemah. Jadi tidak boleh bagi siapapun meninggalkan dalil yang jelas dari Al Qur’an ataupun hadits yang shahih karena tidak sesuai dengan akalnya.

Seseorang harus menundukkan akalnya di hadapan keduanya. Ali bin Abi Thalib berkata: “Seandainya agama ini dengan akal maka tentunya bagian bawah khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit) lebih utama untuk diusap (pada saat berwudhu-red) daripada bagian atasnya.

Dan sungguh aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya.” (shahih, HR Abu Dawud dishahihkan As-Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no:162). Pada ucapan beliau ada keterangan bahwa dibolehkan seseorang mengusap bagian atas khuf-nya atau kaos kaki atau sepatunya ketika berwudhu dan tidak perlu mencopotnya jika terpenuhi syaratnya sebagaimana tersebut dalam buku-buku fikih. Yang jadi bahasan kita disini adalah ternyata yang diusap justru bagian atasnya, bukan bagian bawahnya.

Padahal secara akal yang lebih berhak diusap adalah bagian bawahnya karena itulah yang kotor. Ini menunjukkan bahwa agama ini murni dari wahyu dan kita yakin tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang selamat. Masalahnya, terkadang akal tidak memahami hikmahnya, seperti dalam masalah ini. Bisa jadi syariat melihat dari pertimbangan lain yang belum kita mengerti.

Jangan sampai ketidakmengertian kita menjadikan kita menolak hadits yang shahih atau ayat Al Qur’an yang datang dari Allah yang pasti membawa kebaikan pada makhluk-Nya. Hendaknya kita mencontoh sikap Ali bin Abi Thalib di atas. Abul Mudhaffar As Sam’ani menerangkan Akidah Ahlussunnah, katanya: “Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka, mencari agama dari keduanya. Adapun apa yang terbetik dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah.

Kalau mereka dapati sesuai dengan keduanya mereka terima dan bersyukur kepada Allah yang telah memperlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik. Tapi kalau mereka dapati tidak sesuai dengan keduanya mereka meninggalkannya dan mengambil Kitab dan Sunnah lalu menuduh salah terhadap akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan menunjukkan kecuali kepada yang haq (kebenaran), sedangkan pendapat manusia kadang benar kadang salah.” (Al-Intishar li Ahlil Hadits: 99)

Ibnul Qoyyim menyimpulkan bahwa pendapat akal yang tercela itu ada beberapa macam:

a. Pendapat akal yang menyelisihi nash Al Qur’an atau As Sunnah.

b. Berbicara masalah agama dengan prasangka dan perkiraan yang dibarengi dengan sikap menyepelekan mempelajari nash-nash, serta memahami dan mengambil hukum darinya.

c. Pendapat akal yang berakibat menolak asma’ (nama) Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan teori atau qiyas yang batil yang dibuat oleh para pengikut filsafat.

d. Pendapat yang mengakibatkan tumbuhnya bid’ah dan matinya Sunnah.

e. Berbicara dalam hukum-hukum syariat sekedar dengan anggapan baik dan prasangka.

Adapun pendapat akal yang terpuji, secara ringkas adalah yang sesuai dengan syariat dengan tetap mengutamakan dalil syariat. (lihat, I’lam Muwaqqi’in: 1/104-106, Al- Intishar: 21,24, dan Al Aql wa Manzilatuhu)

7. Menghindari perdebatan dalam agama. Nabi r bersabda: “Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk kecuali mereka akan diberi sifat jadal (berdebat). Lalu beliau membaca ayat, artinya: ‘Bahkan mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan’.” (Hasan, HR Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahili, dihasankan oleh As

Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no: 5633) Ibnu Rajab mengatakan: “Di antara sesuatu yang diingkari para Imam salafus shalih adalah perdebatan, berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu bukan jalannya para Imam agama ini.” (Fadl Ilm Salaf 57 dari Al-Intishar: 94). Ibnu Abil Izz menerangkan makna mira’ (berbantah-bantahan) dalam agama Allah adalah membantah ahlul haq (pemegang kebenaran) dengan menyebutkan syubhat-syubhat ahlul bathil, dengan tujuan membuat keraguan padanya dan menyimpangkannya.

Karena perbuatan yang demikian ini mengandung ajakan kepada kebatilan dan menyamarkan yang hak serta merusak agama Islam. (Syarh Aqidah Thahawiyah: 313) Oleh karenanya Allah memerintahkan berdebat dengan yang paling baik. Firman-Nya: “Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau’idhah (nasihat) yang baik dan berdebatlah dengan yang paling baik.” (An-Nahl: 125).

Para ulama menerangkan bahwa perdebatan yang paling baik bisa terwujud jika niat masing-masing dari dua belah pihak baik. Masalah yang diperdebatkan juga baik dan mungkin dicapai kebenarannya dengan diskusi. Masing-masing beradab dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu serta siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul dari hasil perdebatan mereka.

Juga bersikap adil serta menerima kembalinya orang yang kembali kepada kebenaran. (lihat rinciannya dalam Mauqif Ahlussunnah 2/587-611 dan Ar-Rad ‘Alal Mukhalif hal:56-62). Perdebatan para shahabat dalam sebuah masalah adalah perdebatan musyawarah dan nasehat. Bisa jadi mereka berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau amaliah dengan tetap bersatu dan berukhuwwah. (Majmu’ Fatawa 24/172)

Inilah beberapa rambu-rambu dalam mengambil ilmu agama sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an maupun hadits yang shahih serta keterangan para ulama. Kiranya itu bisa menjadi titik perhatian kita dalam kehidupan beragama ini, sehingga kita berharap bisa beragama sesuai yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Februari 11, 2009 Posted by | Ahkamul islam | Tinggalkan komentar

Mengenang Masa Lalu..

Mengenang masa lalu untuk kemudian bersedih atas semua kegagalan yang pernah dialami merupakan tindakan sia-sia, membunuh semangat, memupus harapan dan mengubur masa depan.

Muslim yang berpikir cerdas akan melipat berkas-berkas masa lalu, ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘gudang lupa’, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ acuh buat selamanya, karena masa lalu telah berlalu. Kesedihan dan keresahan tak akan mampu memperbaikinya kembali.

Kegundahan tak akan mampu merubahnya menjadi terang, karena memang ia sudah tiada. Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam.

Selamatkan diri kita dari bayangan masa silam. “Apakah kita ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya dan air mata ke dalam kelopaknya ? Ingatlah, keterikatan kita dengan masa lalu, keresahan kita atas apa yang telah terjadi adalah tindakan yang sangat naif, ironis, memprihatinkan dan menakutkan.

Membaca kembali lemba-ran masa lalu hanya akan memupus masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Al-Qur’an mengajarkan setiap kondisi yang menerangkan suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah swt selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah. Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, tak ubahnya seperti menumbuk tepung, menggergaji serbuk kayu.

Orang tua-tua kita mengajarkan, “Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”. Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan hanya karena disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu.

Sebab yang demikian itu mustahil, karena angin selalu berhembus ke depan, air selalu mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan maju ke depan. Maka itu, jangan pernah melawan sunnah kehidupan! Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dan bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita dan siangnya menyapa, inilah hari kita. Umur kita mungkin tinggal hari ini.

Anggaplah masa hidup kita hanya hari ini. Seakan-akan kita dilahirkan pada hari ini dan akan mati hari ini. Dengan begitu, hidup kita tidak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka cita masa lalu, atau bayangan masa depan yang penuh ketidak pastian bahkan acapkali menakutkan. Mari curahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras untuk hari ini. Mari bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang penuh penghayatan, zikir dengan sepenuh hati. Keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, ridho dengan semua yang Allah swt berikan, berempati terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta berbuat baik terhadap sesama. Pada hari dimana kita hidup, saat inilah sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak.

Jadikan setiap menitnya laksana seribu tahun dan setiap detiknya laksana seratus bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari ini. Persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari ini. Bertaubatlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya. Bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan penuh kesenangan dan kebahagiaan.

Terimalah rezeki, istri, anak, tugas, ilmu, dan amanah hari ini dengan penuh keridhoan. “Maka berpegang teguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hen-daklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS.Al-A’raf: 144). Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian, dan kebencian. Jangan lupa, hendaklah kita goreskan pada dinding hati kita satu kalimat : “Hari kita adalah hari ini”. Bila hari ini kita dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka jangan pernah peduli dengan nasi basi yang telah kita makan kemarin atau nasi hangat esok hari yang belum tentu ada. Jika kita percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat maka kita akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: “Saya hanya akan hidup hari ini.” Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri kita setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi dan mensucikan semua amalan. Dan itu akan membuat kita berkata dalam hati: “Hanya hari ini saya berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tiada berucap kotor yang menjijikan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Karena hanya akan hidup hari ini maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah swt, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunnah, berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfat. Saya hanya akan hidup di hari ini, karenanya saya akan menanamkan dalam hati, semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan, berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, sombong, ujub, riya, dan buruk sangka. Hanya hari ini saya dapat menghirup udara kehidupan, saya akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Saya akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu orang yang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang yang berilmu, menyayangi anak-anak kecil dan berbakti kepada orang tua.” Saya hanya akan hidup hari ini, maka saya akan mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu. Kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedikitpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.” Hari ini milik kita adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang indah dan menyenangkan.

Februari 11, 2009 Posted by | Hikmah | Tinggalkan komentar

Dakwah Islam Lewat Pacaran, Bolehkah ???

Dakwah Islam adalah salah satu bentuk media jihad yang terdapat di dalam agama Islam. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menyebarkan ilmu pengetahuan, menasehati sesama adalah beberapa aktivitas yang biasanya terdapat di dalam dakwah Islam. Dakwah Islam adalah salah satu bentuk kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, sebagaimana firman Allah swt berikut:

 

“Serulah (manusia) ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. An Nahl (16) : 125

 

 “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar1, merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imron (3) : 104

 

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik”. QS. Ali Imron (3) : 110

 

Lalu bagaimana kaitan antara dakwah Islam dengan pacaran?

Ada segolongan orang yang mengatakan bahwa pacaran itu dilarang menurut pandangan Islam. Namun ada pula golongan yang mengatakan bahwa pacaran boleh-boleh saja asal nggak kebangetan. Bahkan, ada pula seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah yang akhirnya menggunakan pacaran sebagai media dakwah. Ia berpendapat bahwa dengan pacaran akan membuatnya lebih intensif dalam mendakwahi pasangannya. Benarkah demikian?

Memang larangan mengenai pacaran di dalam Islam tidak dibahas secara eksplisit. Mungkin itulah salah satu faktor yang mengakibatkan kebanyakan orang awam tidak dapat menerima atas hukum pelarangan pacaran ini. Namun, dalam dunia dakwah islam, larangan  pacaran adalah hal yang sudah sangat dimengerti, maka aneh sekali manakala ada seseorang yang mengaku sebagai aktivis dakwah islam, namun ia tetap melakukan pacaran.

Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, namun banyak sekali dalil yang dapat di jadikan sebagai rujukan untuk pelarangan pacaran tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang MENDEKATI ZINA.

 

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17] : 32).

 

Lalu, apa saja perbuatan yang tergolong MENDEKATI ZINA itu? Diantaranya adalah: saling memandang, merajuk/manja, bersentuhan (berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dll), berdua-duaan, dll. Karena unsur-unsur ini dilarang dalam agama Islam, maka tentu saja hal-hal yang di dalamnya terdapat unsure tersebut adalah di larang. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits berikut:

 

Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat (dengan syahwat), zinanya lidah adalah mengucapkan (dengan syahwat), zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya…” (HR Bukhari & Muslim)

 

Dalil di atas kemudian juga diperkuat lagi oleh beberapa hadits dan ayat Al Quran berikut:

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (Bukhori dan Muslim)

 

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad).    
“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HASAN, Thabrani dalam Mu`jam Kabir 20/174/386)

 

“Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membai’at. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali dengan mangatakan: “Saya ba’iat kalian.” (HR. Bukhori)

 

“Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” (HR Malik , Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

 

Telah berkata Aisyah RA, “Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

 

“Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain. Karena pandangan yang pertama mubah untukmu. Namun yang kedua adalah haram” . (HR Abu Dawud , At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani)

 

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.” (HR. Ahmad)

 

Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang (lawan-jenis) yang (membangkitkan syahwat) tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR Muslim)

 

“Janganlah kau terlalu lembut bicara supaya (lawan-jenis) yang lemah hatinya tidak bangkit nafsu (syahwat)-nya.” (QS al-Ahzab [33]: 32)

 

Sekarang pertanyaannya, “Apakah di dalam pacaran terdapat unsur-unsur sebagaimana yang telah disebutkan pada dalil-dalil diatas?” Kalau memang ada, maka jelas bahwa pacaran itu DILARANG di dalam Islam, dengan alasan apapun. Jika dengan keterangan-keterangan yang sudah diuraikan secara jelas di atas ternyata masih ada saja yang mengatakan bahwa pacaran itu BOLEH, maka patut dipertanyakan, “Apa atau yang mana dalilnya?”.

 

Jangan mengatas namakan dakwah islam untuk menghalalkan pacaran!

Sebagai aktivis dakwah islam, tentunya kita tahu bahwa antara laki-laki dan perempuan (ikhwan dan akhwat) itu sudah ada jalan dakwah islamnya masing-masing. Maksudnya adalah, bagi akhwat/perempuan, di sana ada murobbiyah yang khusus menangani dakwah islam dikalangan akhwat, dan disana juga sudah disediakan murobbi yang menangani dakwah islam khusus dikalangan ihkwan secara intensif. Diluar itu, ikhwan punya rekan sesama ikhwan untuk sekedar bertanya atau konsultasi, begitu pula akhwat. Selain itu, untuk dakwah islam atau ta’lim lain yang lebih bersifat umum, yang dapat dihadiri oleh ikhwan dan akhwat pun sudah ada, seperti seminar, dll. Seminar, bedah buku, itu boleh dihadiri oleh ikhwan dan akhwat namun tetap menghindarkan adanya percampuran ataupun berdua-duaan. Maka serahkan saja urusan akhwat ini kepada akhwat juga atau kepada murobbiah-nya. Kalaupun ada kepentingan, sekedar menyampaikan saran atau masukan, sampaikan saja melalui rekan akhwatnya, bukannya kita yang harus turunlangsung. Atau silahkan saja sampaikan secara langsung dengan tidak melalui media pacaran dan menghindari unsur-unsur yang mengarah pada MENDEKATI ZINA, sebagaimana telah disampaikan di atas.

 

Kalau berbicara masalah “ingin berdakwah islam lebih intensif”, banyak cara lain yang dapat kita lakukan. Kalau ingin mendakwah islami orang, ya pilih yang ikhwan juga dong, jangan yang akhwat. Kalau yang akhwat, sampaikan saja kepada rekan akhwat kita, bereskan?

Lagipula, andaipun kita hendak melakukan dakwah Islam kepada seluruh perempuan yang ada di sekolah kita, di kampus kita, di kantor kita, atau di kampung kita…apakah lantas kita juga akan menjadikan mereka sebagai pacar kita ??? Tidak masuk logikakan !

 

Kalau lantas kita mengatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung kepada niatnya (Pacaran yang niatnya untuk dakwah islam). Eittt…tunggu dulu! Niat itu nggak berhenti sampai di situ aja. Niat itu harus diluruskan, LURUSKAN NIAT! Maksudnya adalah, niat untuk melakukan kebaikan ya harus dilakukan dengan cara yang lurus atau benar (sesuai dengan syariat), bukan dengan cara yang buruk atau dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Kalau niat baik dilakukan dengan cara yang batil, itu namanya melenceng! Sama aja seperti ini,apakah niat menyumbang ke Masjid itu diperbolehkan manakala uangnya diperoleh dari hasil merampok?”, ya jelas aja ga boleh. Itu namanya mencampur adukkan antara yang hak dengan yang batil, dan Allah swt telah melarang hal tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya:

 

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2] : 42).

 

Dari sini semakin jelas bahwa pacaran dilarang di dalam Islam. Dan tidak ada dakwah Islam yang dilakukan dengan metode pacaran, karena nanti jatuhnya bukan dakwah Islam lagi, melainkan MENDEKATI ZINA, dan Rasulullah saw pun tidak mencontohkan cara-cara yang demikian, begitu pula para salafussoleh..

 

Dakwah islam Islam adalah perkara suci yang ditujukan hanya untuk Allah swt. Maka jalankanlah dengan cara-cara suci yang diridhoi oleh Allah swt, bukan dengan jalan batil yang justru akan menodai nama dakwah Islam dan menimbulkan murka Allah swt.

Wallahua’lam bishshowab

Februari 11, 2009 Posted by | sunnah dan bid`ah | 1 Komentar